Menjelajah Negeri Orang (part 1)


Kali ini aku diberi kesempatan untuk menginjak tanah milik negara tetangga
Negara ini terkenal dengan makanannya yang sangat bervariasi dan enak
Makanan khasnya adalah Mango Sticky Rice dan Pad Thai
.
.
yap,THAILAND!!!!
.
.
.
Setelah melalui beberapa jam perjalanan menggunakan pesawat, hari pertama aku sampai di Bandara Internasional Don Mueang Bangkok sekitar pukul 8 malam (waktu Thailand sama dengan Waktu Indonesia Barat). Sesampainya di bandara, aku segera membeli kartu sim dan mengaktifkannya agar aku dapat menggunakan akses internet selama disana. Dengan harga kurang lebih 80 ribu rupiah, kartu sim sudah aktif dan dapat digunakan selama seminggu dengan kuota 10GB. Kemudian dari bandara aku pergi ke tempat penginapan di daerah Khaosan Road menggunakan grab dengan harga kurang lebih 120 ribu rupiah( jaraknya cukup jauh, kurang lebih 20 km).
Setelah sampai Khaosan Road, kami berkeliling menyusuri jalanan tersebut dan menemukan banyak sekali makanan yang menarik!! Saat itu adalah malam minggu, jalanan ini sangat ramai dan dipenuhi turis. Di kanan dan kiri jalan banyak terdapat penjual makanan, pakaian, dan berbagai macam minuman. Makanan yang dijual beraneka ragam dan sangat enak, terdapat juga makanan khas Thailand seperti Pad Thai, Mango Sticky Rice, Coconut Ice Cream, dan sebagainya. Kami mencicipi Pad Thai disana yang harganya relatif murah, sekitar 45-60 baht (1 baht seharga kurang lebih 400 rupiah) dan coconut ice cream dengan harga kurang lebih 50 baht.
Setelah menyusuri sepanjang Jalan Khaosan Road, kami kelelahan dan menginap di Hotel Sawasdee Banglumpoo Inn. Hotel di daerah Khaosan Road terbilang cukup banyak dan harganya sangat bervariasi.

.
.

Makanan yang Dijual di Khaosan Road
Pad Thai Sebelum Digoreng


Khaosan Road

Pagi harinya, kami menggunakan grab menuju Wat Benchamabophit, sembari menunggu jam menunjukkan pukul 9 pagi , karena kami berencana mengunjungi Chatuchak Market yang baru buka pukul 9 pagi. Perjalanan dari hotel menuju Wat Benchamabophit membutuhkan biaya kurang lebih 25 ribu rupiah menggunakan grab. Wat Benchamabophit terlihat sangat indah dan di sampingnya terdapat sungai, disana banyak orang menjual ikan lele untuk dapat dilepaskan di sungai tersebut. Seusai berkeliling dan mengambil beberapa foto dalam waktu kurang lebih 40 menit, kami melanjutkan perjalanan kami menuju Chatuchak Market. Perjalanan ini cukup jauh dan menghabiskan biaya kurang lebih 70 baht dan perjalanan kurang lebih 18 menit. Selama perjalanan, kami bercakap-cakap dengan supir grab menggunakan google translate. Meskipun agak sulit, namun kami senang dapat saling bercakap-cakap dan memperoleh beberapa informasi tentang wisata di Bangkok. Pasar Chatuchak yang kami kunjungi, hanya buka saat weekend, pasar ini sangat ramai dan harga barang-barangnya relatif murah. Sesampainya disana, kami makan di dalam pasar, kemudian membeli Thai Tea (seharga kurang lebih 12 ribu). Thai tea terasa sangat enak di negara asalnya!!
Kami berkeliling dan membeli berbagai macam oleh-oleh. Chatuchak Market benar-benar terlihat sangat menyenangkan apabila para wanita berbelanja di sana. Warna-warna dan model pakaiannya sangat menarik. Harganya juga relatif murah dan masih bisa ditawar.Selain pakaian, pedagang di sana juga menjual bumbu masak makanan khas Thailand, selain itu, terdapat juga tempat makan yang di kanan dan kirinya terdapat penjual udang goreng, Pad Thai, sosis bakar, dan sebagainya. Sangat menyenangkan sekali berkeliling di Pasar Chatuchak.

Wat Benchamabophit



Makanan yang Dijual di Pasar Chatuchak

Selanjutnya, kami menuju BTS (Sky Train) Mo Chit Station yang letaknya tidak jauh dari Pasar Chatuchak. Dalam perjalanan ke BTS Mo Chit, kami melihat dan mampir sebentar ke Police Station yang ada di dekat Pasar Chatuchak. Disana kami bertanya mengenai jalur BTS dan diberi brosur peta BTS dan MRT di Bangkok. Setelah keluar dari Police Station, kami segera menuju BTS Mo Chit (menaiki tangga dan jembatan penyebrangan) kemudian membeli tiket ke arah BTS Saphan Taksin dengan harga kurang lebih 25 ribu/orang. Kami berhenti di BTS Saphan Taksin karena disini juga dekat dengan dermaga yang menyediakan boat untuk menuju Wat Arun. Sebenarnya, tidak harus menggunakan boat untuk menuju Wat Arun. Bahkan, dari Chatuchak Market pun dapat menggunakan grab langsung ke Wat Arun (harga relatif lebih murah). Namun, kami ingin menambah pengalaman menggunakan BTS milik kota Bangkok dan menyusuri sungai Chao Phraya  (sungai terpanjang di Thailand), sehingga kami memilih untuk menggunakan BTS kemudian dilanjutkan menggunakan boat. Saat di dermaga, boat yang akan digunakan oleh pengunjung dipisahkan berdasarkan warna benderanya. Apabila warnanya berbeda, maka tujuan akhir boat juga berbeda. Kami memilih boat dengan bendera berwarna orange, karena kami ingin menuju ke Wat Arun. Cukup dengan harga 15 ribu/ orang kami dapat menyusuri Sungai Chao Phraya kurang lebih 15 menit untuk sampai di Wat Arun.
Sungai Chao Phraya

Wat Arun

Setelah sampai di Wat Arun, kami harus membayar tiket masuk sejumlah 50 baht/ orang. Disana kami berkeliling dan mengambil sejumlah foto. Wat Arun terlihat sangat bagus dengan hiasan di sekeliling dindingnya. Biasanya, Wat Arun terlihat lebih indah saat malam hari dan dilihat dari boat sambil menyusuri sungai Chao Phraya. Setelah berkeliling kurang lebih 1,5 jam disana, kami kembali menuju dermaga Saphan Taksin menggunakan boat dengan membayar biaya kurang lebih 25 ribu/orang. Setelah sampai di dermaga Saphan Taksin, kami menuju Asiatique menggunakan boat (gratis), boat yang kami gunakan merupakan fasilitas dari Asiatique sendiri yang rutin menjemput penumpang setiap hari sekitar pukul 4 sore. Dalam waktu kurang lebih 15-20 menit, kami sampai di Asiatique dan menikmati sore di sana. Asiatique sangat cocok untuk tempat nongkrong bersama keluarga. Di dalamnya tersedia banyak sekali makanan yang menggiurkan, seperti durian, bakar-bakaran sosis dan jagung, serta berbagai macam makanan-makanan berat lainnya. Tidak hanya makanan, di sana terdapat berbagai macam mainan anak-anak, seperti robot-robotan, boom-boom car, dan bianglala. Di dalamnya juga terdapat spot-spot foto yang sangat instagramable. Ketika hari mulai malam, kami kembali pulang ke tempat penginapan di daerah Khaosan Road menggunakan grab.
Asiatique